Kamis, 15 November 2018

Cara Meningkatkan Cara Belajar


Dalam segala hal, sudah tentu kita akan melewati yang namanya proses belajar. Bukan hanya dalam hal akademiki, dalam dunia kerja juga membutuhkan atau melewati yang namanya proses belajar. Karena proses belajar adalah proses untuk bisa mencapai sesuatu, sudah bukan waktunya lagi untuk terlalu bergantung pada orang lain. Maka dari itu, kita sebagai seorang insan haruslah belajar untuk bisa mencapai sesuatu dengan usaha kita sendiri. Karena mendapatkan kesuksesan karena usaha sendiri akan berbeda rasanya dengan mendapatkan kesuksesan dengan banyak bantun orang lain.
Permasalahan yang sering kita temui ketika akan belajar adalah malas untuk memulainya atau dengan kata sederhananya disebut kurangnya semangat untuk belajar. Ada banyak hal yang bisa membuat kurangnya semangat belajar, bisa disebabkan karena faktor lingkungan atau memang faktor dari dalam diri kita sendiri. Lalu bagaimana cara untuk mengatasi serat meningkatkan semangat belajar.
Hasil gambar untuk MENINGKATKAN CARA BELAJAR
Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dicoba untuk bisa meningkatkan semangat belajar. 4 Cara meningkatkan semangat belajar
  1. Perbaiki Lingkungan
Pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap semangat belajar yang ada dalam diri kita. Karena ketika berada dalam lingkungan mereka yang rajin dan punya semangat besar untuk belajar akan membuat kita merasa malu karena tidak bisa menjadi seperti mereka. Secara perlahan cara ini akan mempengaruhi penignkatan semangat belajar yang kita miliki. Akan berbeda halnya apabila kita bergaul dengan mereka yang cenderung banyak malasnya, bisa kita bayangkan sendiri bagaimana jadinya. Oleh karena itu, dalam hal memilih lingkungan yang baik tentulah kita harus bisa menuntut diri untuk lebih selektif memilih teman.
  1. Rincikan Target dan Impian
Merincikan target dan impian adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk meningkatkan semangat belajar dalam diri. Betapa tidak? Setiap target dan impian yang ingin kita capai tentunya tidak akan bisa didapatkan secara percuma, dan salah satu cara untuk bisa mendapatkan dan meraih target serta impian itu adalah dengan belajar. Dengan demikian, secara tidak langsung impian dan target telah menjadi motivasi terbesar untuk bisa meningkatkan semangat belajar.
  1. Atur Jadwal Belajar
Mengatur jadwal belajar perlu dilakukan, karena tingkat konsentrasi otak manusia bisa dikatakan tidak terlalu lama. Kalau dihitung hanya sekitar 15 menitan, oleh sebab itu perlu kita atur jadwal yang tentu sehingga bisa meningkatkan semangat belajar. Mengatur waktu juga bisa melatih kita untuk lebih bersikap disiplin. Tumbuhnya semangat belajar biasanya beriringan dengan tumbuhnya sikap disiplin dalam diri kita. Bukankah lebih baik belajar sedikit tapi rutin daripada belajar banyak namun sekligus. Belajar banyak dan sekaligus biasanya akan membuat kita mudah bosan dan akhirnya hanya beberapa yang bisa diserap.
  1. Tingkatkan konsentrasi
Ada banyak cara untuk bisa meningkatkan semangat belajar, salah satunya adalah dengan meningkatkan konsentrasi. Dengan demikian, semangat belajar akan meningkat bertahap.  Cara untuk meningkatkan konsentrasi adalah dengan menganal diri kita dahulu, apakah kita bisa konsentrasi ketika sepi tanpa gangguan atau harus dengan iringan musik atau bagaimana. Cara lain untuk meningkatkan konsentrasi adalah meditasi atau menanangkan diri.
Demikian artikel mengenai cara meningkatkan semangat belajar, semoga bisa membantu. Hal di atas akan lebih baik lagi jika diterapkan dengan konsistensi. Karena dengan konsistensi segala sesuatu yang ingin di budayakan akan tercapai dengan baik.

Sumber: http://tuntasnews.com/2018/03/05/5-tips-meningkatkan-motivasi-belajar/

Jumat, 02 November 2018

Pendidikan Masa Kini


Pendidikan Masa Kini
3 September 2014   01:44 Diperbarui: 18 Juni 2015   01:47  4030  0 0
Hasil gambar untuk Pendidikan masa kini
Pendidikan masa kini identik dengan teknologi dan inovasi yang beragam, mulai dari penggunaan buku hingga penggunaan notebook sebagai media tulis untuk pembelajaran, inovasi juga digunakan untuk mengefisiensi waktu dan juga agar seorang pelajar dapat menyerap ilmu yang di ajarkan oleh tenaga pengajar. Pembelajaran masa kini juga berbeda jauh dengan pembelajaran pada zaman dahulu, pembelajaran masa lalu identik dengan ketegasan karna mereka berpikir bahwa jika mengajar dengan tegas maka para siswa akan menerima pelajaran dengan sempurna, sedangkan pada masa masa kini pendidikan di lakukan dengan cara yang lebih santai karna pada masa kini orang-orang berpikir bahwa jika dengan cara yang santai atau dengan cara keakraban maka para siswa akan menerima pelajaran dengan baik.
Pendidikan di Indonesia dipandang masih rendah jika di bandingkan dengan pendidikan negara-negara lain, hal tersebut di buktikan dengan kesadaran para penduduk Indonesia yang lebih mementingkan untuk bekerja secara dini dibandingkan dengan menuntut ilmu untuk masa yang mendatang. Mereka berpikir jika belajar hanya membuang-buang waktu saja, lebih baik bekerja dan mendapatkan uang dari pada belajar membuang-buang waktu dan menghabiskan biaya. Disamping dengan cara berpikir mereka yang seperti itu, kemiskinan juga menjadi faktor dimana seseorang lebih mementingkan untuk mencari uang agar mereka dapat menyambung hidup dibandingkan belajar yang mereka pikir hanya membuang-buang waktu saja.
Pendidikan masa kini juga berbeda dengan pendidikan masa lalu, pendidikan masa lalu hanya didapat untuk para keluarga bangsawan saja sedangkan pendidikan masa kini bisa di dapat untuk semua keluarga mulai dari menengah hingga bawah. Ketika pendidikan masa kini bebas didapatkan oleh setiap masyarakat malah di wajibkan oleh pemerintah Indonesia, malah masyarakat menengah ke bawah yang menolaknya berbeda dengan masyarakat masa lalu yang ingin sekali atau mendambakan untuk bisa mendapatkan ilmu atau bisa bersekolah.
Pendidikan di Indonesia masa kini juga di cemari dengan tindakan-tindakan yang kurang pantas dari para tenaga pengajar maupun para instansi-instansi yang terkait, dari mulai pencabulan hingga korupsi dana yang akan di tujukan untuk para pelajar Indonesia. Mereka melakukan hal tersebut dengan berdasarkan ketidak aktifan pengawasan yang harus diperketat agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi kembali. Hal tersebut juga imbas dari pendidikan masa lalu yang kurang memperhatikan akhlak sehingga mereka hanya mendapat ilmu untuk kegiatan sehari-hari tanpa memperhatikan dengan nilai-nilai norma dan agama. Maka dari itu pendidikan masa kini atau kurikulum 2013 di rancang dengan mementingkan akhlak dari pada nilai kognitif dari para siswanya, nilai kognitif dikurikulum 2013 juga tidak di pandang dengan sebelah mata sehingga membentuk para pelajar yang cerdas dan berakhlak mulia.
Demikianlah pendidikan masa kini yang saya tulis, mungkin terdapat beberapa perbedaan dengan pendidikan masa lalu, tetapi pendidikan masa lalu maupun masa kini di tujukan sama yaitu untuk membuat masyarakat lebih cerdas sehingga tidak akan tergerus oleh zaman yang lebih canggih dan maju ini.

Sumber: https://www.kompasiana.com/danangrifky/54f5e4d2a333113a778b4589/pendidikan-masa-kini

Jumat, 19 Oktober 2018

Pendidikan Bermuttu Untuk Semua



PENDIDIKAN BERMUTU UNTUK SEMUA
KONVENSI PBB, amanah UUD RI 1945, dan UU RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menegaskan bahwa pendidikan bermutu merupakan komitmen global, ia bukanlah milik segelintir orang, melainkan untuk semua orang. Setiap bentuk diskriminasi terhadap warga negara dalam bidang pendidikan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia (UU NO. 39/1999 tentang HAM, pasal 1 (3) dan pasal 12). Direktur UNESCO menyatakan hal senada, “Pendidikan terbaik dari yang terbaik adalah pendidikan terbaik untuk semua”.
UU RI No. 20/2003 tentang Sisdiknas, pasal 4 (1) menyebutkan “Pendidikan diselengarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”.
Pendidikan untuk semua tidak sebatas memperoleh pendidikan semata, melainkan memperoleh pendidikan bermutu. Jadi pendidikan bermutu adalah harga mati tanpa kompromi karena ia merupakan investasi sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung kelangsungan pembangunan dan kehidupan bangsa. Sebaliknya, pendidikan tidak bermutu adalah awal dari keharcuran sebuah bangsa.
Oleh karena itu, siapapun diantara kita, terutama stakeholder pendidikan yang tidak mendukung pendidikan bermutu di negeri ini berarti ia adalah bagian atau memiliki kontribusi dalam merusak bangsa ini. Bersumber dari Bank dunia 2005 dan EFA Global Monitoring Report 2005 dan banyak riset menyimpulkan bahwa prediktor utama pendidikan bermutu berawal dari pembelajaran efektif.
Pendidikan bermutu sangat ditentukan oleh pembelajaran efektif, dan pembelajaran efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan atau layanan pendidikan. Faktor-faktor yang dimaksud adalah; (1) ketersediaan dan dukungan pengembangan dan pelatihan profesional pendidik; (2) mekanisme dan proses akuntabilitas, mencakup tata kelola; (3) kurikulum dan kontrol atau penilaian mutu pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran, melalui LKS yang disertai pembahasannya; (4) sarana dan prasarana fisik sekolah, seperti perpustakaan dan laboratorium; (5) kepemimpinan sekolah, organisasi dan budaya sekolah; (6) penjaminan dan sistem dukungan mutu, terutama penjaminan mutu internal, yakni semua satuan atau unit yang ada memiliki SOP; (7) kemitraan orang tua, sekolah dan masyarakat; dan (8) kehadiran dan motivasi peserta didik.
Pendapat lain, terkait prediktor pendidikan bermutu atau sekolah efektif ditegaskan oleh Peter Martimor (2001) dalam bukunya “Improving School Effectiveness”, yakni sekolah yang memenuhi: (1) professional leadership; (2) shared vision and goals; (3) learning environment; (4) concentration on teaching and learning; (5) purposeful teaching; (6) high expectation; (7) positive reinforcement; (8) monitoring progress; (9) pupil right and responsibilities; (10) home-school partnership; and (11) learning organization.
Diyakini dari sekian faktor yang mempengaruhi perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran adalah faktor guru, dan pemerintah telah berusaha keras untuk mempersiapkan dan melakukan profesionalisasi guru secara berkelanjutan, antara lain melaksanakan sertifikasi guru, namun hingga saat belum membuahkan hasil sebagaimana diharapkan.
Dalam praktek penyelenggaraan pendidikan sekarang ini, menyelesaikan permasalahan pemerataan dan pendidikan bermutu sangat dilematik. Di satu pihak keharuskan memberi akses pemerataan pendidikan dimana semua anak Indonesia harus mengenyam pendidikan, di pihak lain pendidikan mutu diabaikan. Akhirnya yang terjadi Angka Partisipasi Kasar (APK) tercapai, namun pendidikan bermutu terabaikan.
Berikut ini, penulis tegaskan kembali beberapa hal penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, antara lain sebagai berikut.
Secara terus menerus mengusahakan terlaksananya proses pembelajaran efektif.
Mengefektifkan fungsi monitoring, evaluasi dan pembinaan sekolah dan madrasah oleh tiga aktor peningkatan mutu, yakni: guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Penulis amati, mereka dalam melaksanakan tugas dan fungsinya belum bersinergis dengan baik dan cendrung berjalan sendiri-sendiri. Tiga aktor peningkatan mutu tersebut harus bersinergis dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, jika perlu mereka terhimpun dalam sebuah wadah semacam forum komunikasi pembelajaran efektif. Selain itu, kepemimpinan pembelajaran di kelas dan sekolah yang merupakan tanggung jawab guru dan kepala sekolah belum berfungsi secara baik, seperti ujian formatif (ulangan harian) yang merupakan unsur penting dalam proses pembelajaran sama sekali tidak mendapat perhatian serius dalam pembelajaran, diikuti lemahnya umpan balik pembelajaran.
Konsensus politik pihak legislatif dan eksekutip, serta stakeholder pendidikan sangat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan bermutu untuk semua. Mereka harus memiliki persepsi yang sama dalam melihat realitas atau permasalahan pendidikan. Ketidakberdayaan pendidikan selama ini, antara lain akibat dari perbedaan persepsi melihat persoalan pendidikan. Faktanya, perbedaan dalam melihat persoalan guru, dimana pemerintah pusat menegaskan bahwa jumlah guru di daerah adalah cukup, sementara pemerintah daerah mengatakan jumlah guru kurang.
Masih terkait konsensus politik pendidikan. Regulasi atau perundang-undangan dalam penyelenggaraan pendidikan sangat diperlukan, Namun dalam praktek penyelenggaraan pendidikan tersebut sering terjadi justru sebaliknya dimana ketidakberdayaan mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua akibat regulasi atau perundang-undangan yang sangat lemah, misalnya masyarakat tidak memperoleh edukasi yang baik dalam memahami pertanggungjawaban pendidikan akibat intervensi politik praktis di dunia pendidikan, regulasi dan perudang-undangan pendidikan tidak dipersiapkan dengan baik, seperti naskah akademik perundang-undangan pendidikan disusun tidak berbasis riset dan data.
Penilaian kelayakan satuan pendidikan dan/atau program pendidikan melalui penyelenggaraan akreditasi sekolah/madrasah secara profesional dan terpecaya sebagai satu pilar penting dan komprehenship dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua belum mendapat perhatian serius dari stakeholder pendidikan, seperti pemerintah daerah kabupaten/kota. Pemerintah wajib mendukung pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah dan menggunakan rekomendasi hasil akreditasi dalam menyusun kebijakan pendidikan bermutu untuk semua.
Intervensi pemerintah daerah, terutama pada penyediaan dana pendidikan sangat diperlukan. Dana pendidikan yang dialokasikan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hanya cukup untuk mencapai standar minimal pendidikan, tidak cukup untuk membiayai pendidikan bermutu untuk semua, BOSDA dengan jumlah cukup masih sangat diperlukan


Kamis, 11 Oktober 2018

5 Manfaat Pentingnya Pendidikan



5 Manfaat Pentingnya Pendidikan
Hasil gambar untuk pentingnya pendidikan
Banyak orang berfikir bahwa pendidikan itu penting, tapi tidak sedikit pula yang berfikir bahwa pendidikan itu tidak penting. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal dipedesaan ataupun daerah terpencil, mereka menganggap pendidikan itu tidak penting. Bagi mereka, lebih baik bekerja daripada sekolah. Alasan utamanya sudah pasti bisa ditebak, karena jika bekerja mereka bisa mendapatkan uang, sedangkan sekolah hanyabuang-buang uang saja. Di tambah lagi dengan kondisi saat ini yang sangat susah mencari pekerjaan. Maka dari itu, sekarang saya akan membahas tentang pentingnya pendidikan.
Cekidot :-)
1.Memberikan pengetahuan
Efek langsung dari sebuah pendidikan adalah memberi pengetahuan. Pendidikan memberi kita banyak pengetahuan tentang berbagai hal dan segala sesuatu yang berhu ungan dengan dunia ini, pendidikan juga dapat memberikan pandangan bagi kehidupan. Membantu kita membentuk sudut pandang kehidupan,dlsb.
2.Untuk karir / pekerjaan
Jika diatas tadi saya mengatakan bahwa salah satu alasan orang menganggap bahwa pendidikan itu kurang penting karena sekolah ataupun tidak sekolah tetap susah cari kerja. Nah dari itu kita ubah pola fikir kita bahwa dengan berpendidikan kita akan mudah mendapat pekerjaan, tetap berusaha dan berfikir positif J
3.Membangun karakter
Kemabali lagi bahwa pendidikan itu sangat penting bagi kita, karena tidak hanya memberi kita pengetahuan akan tetapi mengajarkan kita pada sopan santun dan hal- hal yang benar . pendidikan memupuk kita menjadi individu dewasa ; individu yang mampu merencanakan masa depan dan mengambil keputusan yang tepat dalam hidup. Dan pendidikan yang baik akan membuat kita lebih manusiawi.
4.Memberikan pencerahan
Pendidikan menhapuskan pemikiran yang salah dalam benak kita, membantumemberikan gambaran yang jelas tentang hal-hal yang berada disekitar kita agar tidak kebingungan. Pendidikan mampu mengobarkan api semangat dalam diri, semangat untuk mencari hal-hal yang belum diketahui, semangat bertanya, semangat dalam menjalani kehidupan. Maka pendidikan mampu memberi pencerahan bagi siapapun.
5.Membantu kemajuan bangsa
Meskipun tidak terdaftar dalam 3 kebutuhan dasar manusia, pendidikan adalah sama pentingnnya. Pendidikan dapat membantu kemajuan bangsa karena masa depan bangsa aman ditangan masyarakat yang berpendidikan. Pendidikan adalah penting bagi pembangunan sosial dan pertumbuhan ekonomi bangsa.
 Sumber: https://www.kompasiana.com/henyharyati/552e374c6ea834cb238b457d/5-alasan-pentingnya-pendidikan

Kamis, 27 September 2018

Pendidikan Seumur Hidup dan Belajar Seumur Hidup


1.    Pendidikan Seumur Hidup
Hasil gambar untuk belajar seumur hidup 
“Pendidikan Seumur Hidup”/”Life-Long Education” (bukan “long life education”) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita. Pendidikan seumur hidup merupakan sebuah sistem pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. Azas pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu azas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinue, yang bemula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal. Proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar, tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakanya. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal, non formal maupun formal baik yang berlansung dalam keluarga, disekolah, dalam pekerjaan, dan dalam kehidupan masyarakat. Islam menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup, Nabi bersabda :Tuntutlah ilmu dari buain sampai meninggal dunia.

Pemerintah juga menekankan betapa perlu dan pentingnya pendidikan seumur hidup itu, melalui kebijakan Negara ( Tap MPR No. IV / MPR / 1970 jo. Tap No. IV/ MPR / 1978 Tentang GBHN ) maka dimulailah konsep tentang pendidikan seumur hidup. Didalam UU Nomor 20 tahun 2003, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam pasal 13 ayat (1). Dengan pendidikan seumur hidup manusia di tuntut untuk membantu individunya agar dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial sepanjang hidupnya, yang terpenting adalah manusia dapat bertahan dari segi apapun di era globalisasi ini.

Karena didasarkan betapa pentingnya pendidikan seumur hidup itu, maka memiliki beberapa urgensi antara lain: Aspek ideologis, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan pengetahuan dan menambah keterampilannya. pendidikan seumur hidup akan membuka jalan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Aspek ekonomis, pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting. Aspek sosiologis, di negara berkembang banyak orangtua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya. Pendidikan seumur hidup bagi orang tua merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara demokrasi. Aspek teknologis,pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di Negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi.

2.    Belajar Seumur Hidup

Belajar seumur hidup sering menjadi semboyan. Namun sungguh sayang jika ini hanya menjadi semboyan saja.  Karena belajar seumur hidup bisa menjadi filsafat hidup yang sangat ampuh. Belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Belajar banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, setiap harinya hanya duduk mendengarkan Guru/Dosen dan diakhir materi mendapatkan ujian, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal. Belajar berarti berlatih diri kita sehingga kita memiliki sesuatu kemampuan yang baru atau kemampuan yang semakin tinggi.  Ini bisa belajar ilmu pengetahuan, keterampilan fisik, dan belajar bersikap. Kalau kita mau, kita bisa memandang segala hal yang kita alami sehari-hari sebagai kesempatan belajar.  Ini menjadi semacam filsafat hidup. Hidup seperti sekolah raksasa. Mata pelajaran: bebas. Kurikulum: kehidupan yang produktif, indah dan bermakna. Kepala sekolahnya: Tuhan sendiri. Setiap hari kita menyempurnakan rutinitas kita, tindakan kita, trik-trik kita.  Kita sempurnakan hubungan kita dengan orang yang kita sayang.Hidup seperti sekolah raksasa. Mata pelajaran: bebas. Kurikulum: kehidupan yang produktif, indah, dan bermakna.  Kepala sekolahnya: Tuhan sendiri.

Tujuan belajar seumur hidup:
1. Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembaurannya seoptimal mungkin.
2. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
Belajar baru berhasil bila kita mampu membuat Habits / kebiasaan baru. Hal yang kita lakukan sehari-hari yang meningkatkan kualitas hidup kita. Tentunya akan sia–sia belajar tinggi-tinggi, susah-susah, kalau tidak ada perubahan dalam tingkah laku kita, akal budi kita, kepribadian kita, sifat-sifat kita, dan kebiasaan kita sehari-hari. Dan hal yang paling harus kita perhatikan adalah perubahan Habits ini. Karena ia adalah identitas diri yang sebenarnya. Kita boleh bilang apa saja, mengklaim apa saja tentang diri kita.  Tapi kita yang sebenarnya, the real me, adalah kebiasaan atau habits kita itu.  Itu hal yang kita lakukan, sadar atau tidak.
Belajar berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal. Dalam belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge) dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup, mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai hidup kita.

Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.

Sumber: http://soktauloe.blogspot.com/2013/06/pendidikan-seumur-hidup-dan-belajar.html

Kamis, 20 September 2018

Pendidikan Masih Jadi Masalah Utama di Papua


Pendidikan Masih Jadi Masalah Utama di Papua
Hasil gambar untuk pendidikan di Papua
Ilustrasi Pendidikan di Papua. ( Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Irawati D Astuti / DAS Selasa, 18 Oktober 2016 | 13:57 WIB
Jayapura - Selama lebih dari satu dekade, Indonesia telah mencoba memperbaiki sistem pendidikannya dengan mengalokasikan 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Terdapat 62 juta siswa dan 3,5 juta guru dan dosen. Sayangnya, angka fantastis itu gagal menjamin distribusi dan kualitas yang merata di seluruh nusantara.
Sistem pendidikan di Indonesia bagian Barat secara umum lebih baik dari Indonesia bagian Timur, seperti Papua. Di Indonesia Timur, masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akses ke sekolah yang baik.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun ajaran 2013/2014, terdapat 117.529 siswa sekolah dasar (SD) dan 39.529 siswa sekolah menengah atas (SMA) di provinsi Papua Barat. Sementara di provinsi Papua, terdapat 336.644 siswa SD dan 94.897 siswa SMA. Sepintas, angka itu tampak menjanjikan. Sayangnya, fakta yang ada di lapangan jauh dari sekadar angka.
Kondisi ekonomi, budaya dan aksesibilitas geografis menjadi batasan bagi banyak anak-anak di wilayah timur Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dasar sekalipun. Masih banyak masyarakat yang belum peduli dengan pentingnya pendidikan untuk anak-anak. Atau, banyak yang mengalami kesulitan ekonomi sehingga tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka.
Data BPS menyebutkan, Papua Barat dan Papua memiliki nilai paling rendah di antara seluruh provinsi di Indonesia, dalam laporan Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) 2010-2015. Papua Barat memiliki nilai 61,73, sedangkan Papua memiliki nilai 57,25. Sementara nilai rata-rata HDI di Indonesia adalah 69,55.
HDI mengukur pencapaian rata-rata warga di suatu negara dalam hal pembangunan manusia. Variabel yang diukur di antaranya adalah kesehatan, harapan hidup, pendidikan dan standar hidup.
Selain nilai HDI yang rendah, angka inflasi di Papua Barat dan Papua cukup tinggi. Banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena mereka harus bekerja demi menunjang ekonomi keluarga.
“Rakyat Papua yang tinggal di kota-kota besar tidak akan mempertanyakan pentingnya pendidikan dan menyekolahkan anak-anak mereka. Hal yang berbeda terjadi di wilayah pedesaan dan pedalaman. Di sana, mereka tak bisa sekolah karena mereka harus bekerja membantu orangtuanya,” jelas Kepala SDN Abeale I, Sudarwati.
Pandangan konservatif yang melihat pendidikan adalah hal yang tidak penting dan keengganan untuk bekerja menyebabkan banyak rakyat Papua yang meninggalkan kawasan urban.
“Banyak orang Papua yang malas bekerja. Mereka terlalu nyaman hidup dari mendayagunakan sumber daya alam di sekitar. Orang-orang lokal kerap mabuk-mabukan dan tidak peduli pada pendidikan. Inilah kenapa mereka sering kalah saat berkompetisi dengan orang dari luar Papua dan memutuskan kembali ke pedalaman,” tutur Edi, mantan guru di sebuah sekolah Katolik di Surabaya, Jawa Timur, yang tinggal di Sentani selama 11 tahun belakangan.
Data dari United Nations Children's Fund (Unicef) menunjukkan bahwa 30% siswa Papua tidak menyelesaikan SD dan SMP mereka. Di pedalaman, sekitar 50% siswa SD dan 73% siswa SMP memilih untuk putus sekolah.
Kondisi geografis merupakan salah satu faktor yang menyulitkan warga Papua untuk mendapatkan pendidikan.
Sekolah-sekolah di kota-kota besar di Papua mungkin tak memiliki kesulitan yang sama dengan yang dialami sekolah-sekolah di pedalaman. Namun masih ada persoalan lain yang menghalangi perkembangannya.
Bahkan di SD Abeale I yang bebas biaya, banyak siswa yang tidak mendapatkan pendidikan layak. Sudarwati mengatakan, sekolah yang dipimpinnya butuh lebih banyak guru yang berkualitas, terutama untuk kelas komputer dan Bahasa Inggris.
“Kami telah memperbaiki kapasitas dan kualitas guru-guru di Papua,” ujar Sudarwati, yang telah mengajar di Papua sejak 1990.
Tak hanya kualitas guru yang mengkhawatirkan, tapi juga kondisi infrastrukturnya. Gedung sekolah yang dibangun di era 70-an butuh direnovasi. Selain itu, diperlukan tambahan dua kelas lagi untuk mengakomodasi siswa-siswanya.
Meski begitu, Sudarwati tidak menyerah. Mengajar dan belajar merupakan kontribusi paling penting yang ia berikan kepada masyarakat.
Meski begitu, secercah harapan kerap muncul di tengah situasi yang sulit. Di daerah pegunungan Mamit, di Tolikara, SD Lentera Harapan masih berdiri untuk menyediakan pendidikan berkualitas dan gratis untuk warga lokal.
Dipimpin oleh Laura Elisabeth Panggabean, sekolah itu bertujuan untuk menyediakan kesempatan pendidikan yang merata untuk seluruh anak-anak di kawasan pedesaan yang miskin.
Awalnya, masalah yang dihadapi Laura dan relawan guru lainnya di Mamit bukanlah standar hidup yang rendah atau betapa terpencilnya desa itu. Kendala utama mereka adalah bahasa.
“Saat para siswa datang untuk pertama kali, mereka belum bisa berbicara dalam bahasa Indonesia. Sebab, rata-rata mereka hanya berbicara dalam bahasa lokal mereka, bahasa Lani,” tutur Laura.
Dengan bantuan dari misionaris dan relawan dari Mission Aviation Fellowship (MAF), para siswa tersebut mulai mendapatkan pendidikan formal dan informal. Sekolah Lentera Harapan secara perlahan mengajari warga Mamit soal pendidikan, dan juga kebersihan. Mulai dari penggunaan toilet hingga mencuci tangan sebelum makan.
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta seperti ini dibutuhkan untuk membangun akses pendidikan di kawasan pedalaman seperti Mamit. Rakyat Papua yang berhasil mendapatkan pendidikan layak harus kembali ke kampung halamannya dan berbagi pengetahuan mereka. Salah satunya adalah Yustus Samber, yang menjadi relawan guru di sekolah Lentera Harapan.
Yustus mengatakan, sebagai orang Papua, ia memiliki akses lebih baik kepada komunitas lokal. Ia percaya pendidikan adalah cara untuk mengubah masa depan Mamit secara khusus, juga Papua secara umum.
“Jika bukan kita, siapa lagi? Saya hanya berharap anak-anak ini akan membawa perubahan untuk Mamit,” tuturnya.

Sumber: http://www.beritasatu.com/nasional/393388-pendidikan-masih-jadi-masalah-utama-di-papua.html

Kamis, 13 September 2018

Fungsi Media Pembelajaran




FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Hasil gambar untuk manfaat media

Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah audio visual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”. Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi CD Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan Web sebagai bahan ajar online.[2]
Levie & Lents (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:
1.    Fungsi atensi,
2.    Fungsi afektif,
3.    Fungsi kognitif,
4.    Fungsi kompensatoris.
1.    Fungsi Atensi
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka sehingga mereka tidak memperhatikan. Media gambar khususnya gambar yang diproyeksikan melalui overhead projector dapat menenangkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada pelajaran yang akan mereka terima. Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar.
1.    Fungsi Afektif
Media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras.
1.    Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaiaan tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
1.    Fungsi Kompensatoris
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.[3]
Media pembelajaran, menurut Kemp & Dayton (1985:28), dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu :
1.    Memotivasi minat atau tindakan,
2.    Menyajikan informasi,
3.    Memberi instruksi.
Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para siswa atau pendengar untuk bertindak (turut memikul tanggung jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan subangan material). Pencapaian tujuan ini akan memperngaruhi sikap, nilai, dan emosi.
Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka penyajian informasi dihadapan sekelompok siswa. Isi dan bentuk penyajian bersifat amat umum, berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang. Penyajian dapat pula berbentuk hiburan, drama, atau teknik motivasi. Ketika mendengar atau menonton bahan informasi, para siswa bersifat pasif. Partisipasi yang diharapkan dari siswa hanya terbatas pada persetujuan atau ketidaksetujuan mereka secara mental, atau terbatas pada perasaan tidak/kurang senang, netral, atau senang.
Media berfungsi untuk tujuan instruksi di mana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis dilihat dari segi prinsip-prinsip belajar agar dapat menyiapkan instruksi yang efektif. Di samping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorang siswa.
Sumber:https://herminegari.wordpress.com/perkuliahan/fungsi-dan-manfaat-media-pembelajaran/

Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Teddy Triyadi Nugroho Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Jakarta Kamis, 14 Mei 2020 09:08 WIB Pembelajaran jarak jauh yang ...